Internet Addiction
INTERNET ADDICTION
Kemajuan
teknologi, seiring dengan berjalannya waktu semakin canggih membuat masyarakat mulai dari anak-anak hingga orang dewasa atau
bahkan lansia sekalipun sudah tak asing lagi dengan istilah internet, memanfaatkan fasilitas internet untuk berbagai tujuan pemenuhan kebutuhan.
Berkat teknologi yang dikenal dengan nama internet, hampir semua kebutuhan
manusia dapat diselesaikan, mulai dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari,
bersosialisasi, mencari informasi sampai kepada pemenuhan kebutuhan hiburan.
Kehadiran internet oleh masyarakat lebih dimanfaatkan sebagai media sosial,
karena dengan media sosial masyarakat bisa dengan bebas berkelana ke berbagai
belahan dunia untuk berbagi dan mencari informasi serta berkomunikasi dengan
orang banyak tanpa banyak hambatan dalam hal biaya, jarak dan waktu (Soliha,
2015).
Internet atau yang merupakan kependekan dari Interconnection Network, internet adalah suatu jaringan secara global yang menghubungkan semua komputer yang digunakan untuk kebutuhan bisnis, pendidikan, pemerintah maupun pribadi. Penggunaan internet tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dikarenakan hampir sebagian besar kegiatan masyarakat didunia membutuhkan internet, baik untuk kebutuhan akademik maupun non-akademik. Pemakaian internet akan baik jika dipakai sesuai dengan waktu dan kebutuhan, namun akan berdampak negatif jika disalahgunakan (segi waktu dan manfaat). Penggunaan internet yang berlebihan tersebut dapat disebut dengan Internet Addiction Disorder (IAD) atau gangguan kecanduan internet, yakni meliputi segala macam hal yang berhubungan dengan internet seperti jejaring sosial, email, pornografi, judi online, game online, chatting. Maka dalam Internet Addiction terdapat faktor etiologi yang terdiri dari 4 faktor.
Internet atau yang merupakan kependekan dari Interconnection Network, internet adalah suatu jaringan secara global yang menghubungkan semua komputer yang digunakan untuk kebutuhan bisnis, pendidikan, pemerintah maupun pribadi. Penggunaan internet tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dikarenakan hampir sebagian besar kegiatan masyarakat didunia membutuhkan internet, baik untuk kebutuhan akademik maupun non-akademik. Pemakaian internet akan baik jika dipakai sesuai dengan waktu dan kebutuhan, namun akan berdampak negatif jika disalahgunakan (segi waktu dan manfaat). Penggunaan internet yang berlebihan tersebut dapat disebut dengan Internet Addiction Disorder (IAD) atau gangguan kecanduan internet, yakni meliputi segala macam hal yang berhubungan dengan internet seperti jejaring sosial, email, pornografi, judi online, game online, chatting. Maka dalam Internet Addiction terdapat faktor etiologi yang terdiri dari 4 faktor.
A. Faktor Etiologi Internet Addiction
Etiologi adalah studi
yang mempelajari tentang sebab dan asal muasal dari gangguan kesehatan.
Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani aitiologia, yang artinya “menyebabkan”. Faktor etiologi Internet Addiction terdiri dari 4 faktor,
yaitu:
1. Model Kognitif-Behavioral
Menurut Davis (2001), Memperkenalkan teori perilaku kognitif
dari pathological Internet use (PIU) yang mencoba untuk memodelkan etiologi,
pengembangan, dan hasil yang terkait dengan PIU. Davis mengkarakterisasi PIU
sebagai lebih dari sekadar kecanduan perilaku. Davis mengusulkan bahwa ada dua
bentuk PIU yang berbeda: spesifik dan umum. PIU spesifik melibatkan penggunaan
berlebihan atau penyalahgunaan fungsi spesifik konten dari Internet.
Menurut Caplan (2002), Internet addiction sebagai bagian dari kecanduan perilaku internet addiction terdiri akan komponen
inti dari kecanduan (kepentingan, modifikasi mood, toleransi, penarikan,
konflik, dan relapse). Dari perpektif ini, internet addicts menunjukkan
kepentingan tinggi kepada aktivitasnya, sering mengalami ngidam (cravings) dan
menjadi asik dengan internet bahkan ketika saat offline. Dia juga menyarankan
bahwa menggunakan internet adalah cara untuk menghindari dari masalah perasaan,
mengembangkan toleransi terhadap internet untuk mencapai kepuasan, mengalami
penarikan ketika mengurangi penggunaan internet, penderitaan meningkat karena
bertambahnya konflik dengan yang lain yang disebabkan oleh aktivitas tersebut,
dan kambuh kembali lagi menjadi kecanduan akan internet.
2. Model Neuropsikologi
Ketika
memeriksa dorongan primitif yang terkait dengan kecanduan, banyak penelitian
bermula dari perilaku otak yang terkait dengan ketergantungan kimia. Aktivasi
farmakologis dari reward system otak sebagian besar
bertanggung jawab untuk menghasilkan sifat adiktif obat. Faktor kepribadian,
sosial, dan genetik mungkin juga penting, tetapi efek obat pada sistem saraf
pusat (SSP) tetap menjadi penentu utama kecanduan narkoba. Faktor
nonfarmakologis cenderung penting dalam mempengaruhi penggunaan obat awal dan
dalam menentukan seberapa cepat kecanduan berkembang.
Menurut Di Chiara (2000), Dopamine adalah salah satu
dari sejumlah neurotransmitter yang ditemukan di central nervous system (system
saraf pusat). Dopamine menerima perhatian khusus dari ahli psikofarmakologi
karena perannya dalam pengaturan mood dan perasaan dan aktivasi dari sistem
reward dan kesenangan. Meskipun ada beberapa sistem dopamin di otak, sistem
dopamin mesolimbik tampaknya menjadi yang paling penting untuk proses motivasi.
Beberapa obat adiktif menghasilkan efek kuat pada perilaku dengan meningkatkan
mesolimbik aktivitas dopamin. Stimulus dari luar seperti obat-obatan, alkohol
dan termasuk internet menstimulus otak bagian middle forebrain bundle (MFB)
yang menghasilkan efek kesenangan. Peneliti juga menemukan efek dari fisik dan
psikis dari kecanduan, yaitu perubahan dari neurotransmitter di otak, dan ada
peneliti lain yang berargumen bahwa semua kecanduan, dibedakan oleh tipenya
(contoh seks, makanan, dan, kafein, alkohol, nikotin) itu bisa dipicu dari
perubahan di otak ini.
3. Teori Kompensasi
Menurut Tao (2005),
berargumen bahwa “sistem penilaian tunggal” dari anak muda yang memiliki ambisi
untuk menjadi nomor pertama dalam pendidikan mencari “kompensasi spiritual”
dari aktivitas online. Juga dengan terjun di aktivitas internet, anak muda juga
mencari kompensasi akan identitas diri, kepercayaan diri, dan social networking.
Diusulkan oleh The Institute of Psychology of the Chinese Academy of Sciences
dengan adanya “teori kompensasi” yang menyebabkan kenapa anak muda memiliki
kecanduan akan internet di China.
4. Faktor Situasional
Internet dapat menjadi
pelarian psikologis yang mengganggu pengguna dari masalah kehidupan nyata.
Misalnya, seseorang mengalami perceraian yang menyakitkan dapat beralih ke
teman online untuk membantu mengatasi situasinya. Untuk seseorang yang baru
saja dipindahkan ke pekerjaan atau perusaahaan yang baru, memulai kembali dari
awal bisa merasa kesepian. Sebagai sarana untuk mengatasinya dengan kesepian
yang dialami oleh lingkungan baru, pengguna dapat beralih ke Internet untuk
mengisi kekosongan malam-malam yang sepi itu.
Menurut Young (2007), faktor situasional juga
memainkan peran penting dalam perkembangan adiksi internet. Individu yang merasakan
adanya perasaan berlebihan yang baru mengalami masalah pribadi seperti
perceraian, perpindahan tempat tinggal, atau kematian kerabat bisa tenggelam
dalam dunia maya yang penuh akan fantasi dan keindahan. Internet bisa menjadi
pelepasan psikologis bagi orang yang merasakan masalah untuk mendistraksi diri
dari rasa kesedihan tersebut.
B. Dampak Internet Addiction
Seseorang yang
mengalami kecanduan internet (Internet
Addiction) dapat menggunakan internet dalam waktu yang lama dan dapat memberikan
dampak, seperti berinteraksi dan sosialisasi menjadi tumpul, seringnya
menunda-nunda pekerjaan, mengalami insomnia
atau susah tidur, terganggunya kesehatan mata, menurunnya prestasi belajar karena
malas untuk belajar, dan juga dapat mengobarkan fantasi yang tunduk kepada hawa
nafsu karena tergiur dengan konten-konten dewasa.
C. Tindakan Preventif Pada Internet
Addiction
1.
Orang tua menjadi role model.
Orangtua
yang menghabiskan banyak waktu untuk online, dan dilihat oleh anak setiap saat
menyebabkan anak akan belajar seperti apa yang orang tuanya lakukan. Oleh
karena itu maka lebih baik orang tua sebisa mungkin tidak menghabiskan waktunya
untuk online. Agar dapat menjadikan role model anaknya agar tidak menjadi
pecandu internet.
2.
Perhatikan konten.
Walaupun
internet dapat mengakibatkan seseorang menjadi Internet Addiction, namun seseorang terutama anak pun harus
mengetahui adanya internet yang menjadi teknologi modern di dunia. Oleh karena
itu orangtua dapat menggunakan "Kids Home" pada android atau aplikasi
lain untuk memblokir konten tertentu.
3. Teknologi digital tidak boleh (atau setidak-tidaknya
mungkin jarang) digunakan sebagai pengasuh digital.
Cobalah
menyediakan waktu untuk anak dan pergi keluar, seperti bermain dengan anak.
Anak-anak kecil paling banyak belajar melalui kontak pribadi dan dengan
menggunakan semua panca indera dan keterampilan motorik kasar dan halus. Dengan
begitu orang tua tidak begitu banyak dengan menggunakan internet untuk
pengasuhan.
4. Membuat
aturan penggunaan teknologi digital dalam bentuk apa pun.
Aturan penggunaan teknologi digital, orang tua dapat
mengatur penggunaan internet pada seorang anak tetapi tetap harus mengikuti
aturan.
D. Tindakan
Intervensi Pada Internet Addiction.
Cognitive
Behavior Therapy (CBT) diperkirakan dapat untuk mengatasi permasalahan internet
addiction. Diperjelas oleh penelitian Young (2007) berjudul “cognitive
behavior therapy with Internet addicts: treatment outcomes and implications”,
yang menyatakan bahwa kebanyakan klien mulai dapat mengatasi masalah internet
addiction setelah mengikuti 8 sesi dari CBT. Selain itu juga
treatment seperti konseling keluarga, dukungan kelompok, pendidikan dan
lokakarya untuk penderita dan keluarganya diharapkan dapat membantu mereka
memahami aspek kepercayaan dan kehidupan keluarga yang merupakan bagian dari kecanduan
tersebut.
Referensi:
Davis, R.A, (2001). Cognitive
Behavioural Model of Pathological Internet Use. Computers in Human Behavior. 17: 187-195.
Di Chiara, G. (2000).
Role of dopamine in the behavioural actions of nicotine related to
addiction. European Journal of
Pharmacology, 393(1–2), 295–314.
Caplan, S. E. (2002).
Problematic Internet use and psychosocial well-being: Development of a
theory-based cognitive-behavioral measurement instrument. Computers in Human Behavior.
18: 553-575.
Soliha, S. F. (2015). Tingkat ketergantungan pengguna media sosial
dan kecemasan sosial. Jurnal Interaksi. 1-10.
Young, K. S. (2007).
Cognitive-behavioral therapy with Internet addicts: Treatment outcomes and
implications, CyberPsychology &
Behavior, 10(5), 671–679.

Komentar
Posting Komentar